Penjual Mainan Tradisional Pencuri Perhatian




Pada pagi itu, tepatnya 23 Oktober 2016, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan yang merupakan salah satu lokasi yang menjadi tempat untuk melakukan kegiatan car free day setiap hari minggu, saat itu diguyur hujan. Walaupun pagi itu hujan turun dengan lebat, masyarakat DKI Jakarta bahkan dari luar Jakarta tetap antusias untuk datang ke Jalan Sudirman. Mereka masih antusias untuk berolahraga, bermain atau sekedar mencari suasana baru di sana. 

Tempat umum penuh dengan masyarakat, banyak dari mereka yang menunggu hujan reda di stasiun, halte bus, pos polisi dan sebagainya. Pukul 07.30 WIB hujan sudah mulai reda, masyarakat mulai melakukan aktivitas yang sejak awal mereka rencanakan. 

Para penjual mulai menata barang dagangan mereka, masyarakat mulai memenuhi dagangan yang berada di sekitar Jalan jendral Sudirman. Banyak sekali aktivitas masyarakat yang dapat ditemukan di sana. Aktivitasnya beragam-ragam, ada yang bersepeda, jogging, berfoto-foto, bermain sepatu roda, berkumpul dengan komunitas, berkuliner di sekitar Jalan Sudirman, bercengkrama dengan teman di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Jalan Sudirman, tepatnya Bundaran Hotel Indonesia. Bundaran HI memang merupakan salah satu icon Ibu Kota Jakarta, maka dari itu banyak masyarakat yang ingin berfoto di sana.

Saat hampir tiba di Bundaran HI, saya melihat ada yang unik dari pemandangan yang saya lihat kala itu. Seorang pria tua sedang mendorong sebuah gerobak beroda kecil yang berisi mainan berbentuk lingkaran yang digabung-gabung sampai panjang ke bawah menyerupai sebuah tali menuju Bundaran HI. Pria tua itu bernama Sukiman, ia menjual mainan tradisional asal jawa. 

Mainan warna-warni yang terbuat dari plastik itu ia buat dengan tangannya sendiri. “Saya membuat semuanya sendiri. Tidak butuh waktu lama untuk membuat semuanya, yang lama itu cari bahannya,” ujarnya seakan ingin menjelaskan bahwa ia sudah sangat biasa membuat mainan tersebut. Bagaimana tidak biasa? Sukiman membuat mainan itu sejak masih sekolah. Mainan dan aksesoris yang dijualnya terinsipirasi dari masa kecilnya.
“Ini karya seni unik dan antik, gak ada yang jualan kayak gini di sini,” ujarnya menegaskan kalau tidak ada lagi yang berjualan mainan seperti yang ia jual di sana.

Saat datang, ia mampu mencuri perhatian masyarakat yang sedang melakukan aktivitas di sana. Bukan hanya dengan mainan warna-warni yang ia jual, di gerobaknya juga terdapat poster Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Poster berukuran cukup besar itu mampu menarik perhatian para pengunjung. Pria pengagum Presiden pertama Republik Indonesia ini mengaku kalau di rumahnya sangat banyak poster Ir. Soekarno, ia mengoleksinya, “berawal dari rasa kagum, saya jadi pasang poster dan jualan poster juga. Di rumah masih banyak koleksi poster Soekarno.”

Selama berkeliling di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, banyak sekali masyarakat yang ingin berfoto bersama dengan pria asal Solo yang memiliki enam anak perempuan ini dan gerobak uniknya.

“Tanpa Soekarno, Indonesia tidak akan merdeka!” ujarnya dengan semangat.
 “Soekarno dijajah oleh generasi penerusnya dan dibunuh oleh Soeharto dengan caranya mereka! Berapa besar jasa Soekarno selama ini!” Dengan nada tinggi ia melanjutkan ucapannya. 

Ia mulai melangkahkan kakinya saat matahari belum menampakkan diri. Dengan menaiki sebuah bus metro mini dari tempat tinggalnya di Mampang, Jakarta Selatan, ia membawa barang dagangannya menuju Jalan Sudirman. Usianya yang kini tepat 83 tahun, tidak membuat semangatnya luntur. 

Masih banyak masyarakat yang menghargai dan tertarik dengan mainan tradisional asal jawa itu. buktinya 300-400 ribu rupiah dapat ia peroleh dari menjual mainan tersebut. Menjual mainan bukanlah pekerjaan utama pria yang sudah memiliki sembilan orang cucu dan satu cicit ini. Kesehariannya hanya tinggal di rumah bersama sang istri. Untuk mengisi waktu luangnya, ia berjualan aksesoris dan mainan tradisional setiap minggu saat car free day di Sudirman dan sekitarnya, namun sudah satu bulan terakhir ia tidak berjualan karena sakit dan baru kembali berjualan hari ini.

Setelah jam car free day habis, hujan kembali turun, masyarakat satu per satu mulai meninggalkan Jalan Sudirman dan sekitarnya, begitu pula dengan Sukiman. Tampak dari kejauhan iya mulai menjauh dari Jalanan Sudirman dan mulai menaiki bus metro mini sambil mengangkat gerobaknya masuk ke dalam bus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berteman Dapat Memperlancar Komunikasi